PUTRA BARUS - Inilah Peta Dunia yang dibuat oleh Claudius Potlomeus. Claudius Potlomeus (90 - 168) adalah seorang ahli geografi, astronom, dan astrolog yang hidup pada zaman Helenistik di provinsi Romawi, Aegyptus. Potlomeus adalah pengarang beberapa risalah ilmiah, tiga di antaranya kemudian memainkan peranan penting dalam keilmuwan Islam dan Eropa.
Peta Dunia Potlomeus 150 Masehi digambar ulang pada abad ke-15.
Pada peta tersebut sebutkan tentang sebuah pulau yang bernama Taprobana di pesisir sebelah barat terdapat sebuah bandar niaga yang bernama Barousai yang menghasilkan wewangian dari kapur barus. Diceritakan, kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari Barousai itu merupakan salah satu bahan pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II, atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi.
Memang masih ada perdebatan di kalangan sejarawan barat tentang keberadaan Pulau Taprobana tersebut. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa pulau Taprobana itu adalah Srilanka. Akan tetapi dari beberapa fakta sejarah dan dari cerita para orang tua di Barus sana yang penulis dapatkan tentang sejarah Barus dari jaman dahulu (mereka sebut Jaman Radja Parao) yang sama dengan temuan Claudius Potlomeus ini, maka tidak salah lagi kalau kita pastikan bahwa Pulau Taprobana adalah Pulau Sumatera dan BAROUSAI ADALAH BARUS.
20 August 2011
KAPUR BARUS
PUTRA BARUS - Kapur Barus yang akan dibahas disini adalah kamper yang berasal dari Barus bukan "kapur barus" yang kita kenal saat ini yang dibuat melalui proses kimiawi dan bersifat sintetis.
Kapur Barus adalah kristal kayu "Kapur" (Dryobalanops aromatica) yang berasal dari Barus. Karena pohon yang menghasilkan kristal tersebut bernama Kapur dan kayu tersebut hanya terdapat di Barus maka kristal kayu tersebut diberi nama Kapur Barus.
Pohon kapur umumnya tumbuh di hutan-hutan di pedalaman Barus hingga Manduamas.Proses terjadinya Kapur Barus berlangsung secara alami tanpa bantuan teknologi. Pohon kapur yang telah tumbuh besar akan menghasilkan kristal. Tetapi tidak semua pohon kapur yang mengandung kristal. Kristal kayu tersebut akan mengendap dibagian dalam kayu sehingga untuk mendapatkan Kapur Barus maka pohon kapur tersebut harus ditebang.
Kapur Barus adalah kristal kayu "Kapur" (Dryobalanops aromatica) yang berasal dari Barus. Karena pohon yang menghasilkan kristal tersebut bernama Kapur dan kayu tersebut hanya terdapat di Barus maka kristal kayu tersebut diberi nama Kapur Barus.
Pohon kapur umumnya tumbuh di hutan-hutan di pedalaman Barus hingga Manduamas.Proses terjadinya Kapur Barus berlangsung secara alami tanpa bantuan teknologi. Pohon kapur yang telah tumbuh besar akan menghasilkan kristal. Tetapi tidak semua pohon kapur yang mengandung kristal. Kristal kayu tersebut akan mengendap dibagian dalam kayu sehingga untuk mendapatkan Kapur Barus maka pohon kapur tersebut harus ditebang.
Situs Barus Penanda Penting Sejarah Islam
Medan, Kompas - Situs Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menjadi penanda penting masuknya Islam ke Sumatera. Di Barus terdapat sumber tentang Islam berdasar pada epigraf yang tertera pada batu nisan Islam.
Setidaknya terdapat 36 nisan bertulis di pekuburan Islam di Barus yang terletak di enam kompleks pekuburan. Lima di antaranya sudah diidentifikasi dan sisanya belum.
Nisan
Kompleks pemakaman tersebut di antaranya makam Ibrahim, Papan Tinggi, Ambar, Maqdum, dan Mahligai. Ukuran nisan-nisannya sangat bervariasi dan tidak semua terletak pada posisi aslinya karena sering tercabut dan digeser masyarakat.
”Variasi dari batu nisan tersebut sekaligus menunjukkan asal-usul dan pengaruh. Namun, asal-usul batu nisan belum dapat dipastikan, melainkan hanya diprediksi,” kata anggota staf Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed), Erond L Damanik, pekan lalu.
Erond mengemukakan, makam tertua di antara kompleks makam tersebut adalah kompleks Ibrahim yang terletak di simpang jalan menuju pekuburan Papan Tinggi dan Kota Barus. Makam tersebut bertarikh 772 H atau 1370 M berbahasa Arab dan Persia. Di antara kompleks makam tersebut makam Papan Tinggi kerap dikunjungi peziarah. (MHF/HAN)
Setidaknya terdapat 36 nisan bertulis di pekuburan Islam di Barus yang terletak di enam kompleks pekuburan. Lima di antaranya sudah diidentifikasi dan sisanya belum.
Nisan
Kompleks pemakaman tersebut di antaranya makam Ibrahim, Papan Tinggi, Ambar, Maqdum, dan Mahligai. Ukuran nisan-nisannya sangat bervariasi dan tidak semua terletak pada posisi aslinya karena sering tercabut dan digeser masyarakat.
”Variasi dari batu nisan tersebut sekaligus menunjukkan asal-usul dan pengaruh. Namun, asal-usul batu nisan belum dapat dipastikan, melainkan hanya diprediksi,” kata anggota staf Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed), Erond L Damanik, pekan lalu.
Erond mengemukakan, makam tertua di antara kompleks makam tersebut adalah kompleks Ibrahim yang terletak di simpang jalan menuju pekuburan Papan Tinggi dan Kota Barus. Makam tersebut bertarikh 772 H atau 1370 M berbahasa Arab dan Persia. Di antara kompleks makam tersebut makam Papan Tinggi kerap dikunjungi peziarah. (MHF/HAN)
Wikipedia: Barus Asal Kapur Barus
WIKIPEDIA - Camphor is a waxy, white or transparent solid with a strong, aromatic odor.[3] It is a terpenoid with the chemical formula C10H16O. It is found in wood of the camphor laurel (Cinnamomum camphora), a large evergreen tree found in Asia (particularly in Borneo and Taiwan) and also of Dryobalanops aromatica, a giant of the Bornean forests. It also occurs in some other related trees in the laurel family, notably Ocotea usambarensis. Dried rosemary leaves, (Rosmarinus officinalis), in the mint family, contain up to 20% camphor. It can also be synthetically produced from oil of turpentine. It is used for its scent, as an ingredient in cooking (mainly in India), as an embalming fluid, for medicinal purposes, and in religious ceremonies. A major source of camphor in Asia is camphor basil.
Norcamphor is a camphor derivative with the three methyl groups replaced by hydrogen.
History
The word camphor derives from the French word camphre, itself from Medieval Latin camfora, from Arabic kafur, from Sanskrit, karpoor.[4] Barus was the port on the western coast of the Indonesian island of Sumatra where foreign traders would call to buy camphor, hence in Malay it became kapur Barus. Camphor was known in Arabia in pre-Islamic times, as it is mentioned in the Quran 76:5 as a flavoring for drinks. In the 9th century, the Arab chemist, Al-Kindi (known as Alkindus in Europe), provided the earliest recipe for the production of camphor in his Kitab Kimiya' al-'Itr (Book of the Chemistry of Perfume).[citation needed] By the 13th century, it was used in recipes everywhere in the Muslim world, ranging from main dishes such as tharid and stew to desserts.[5]
Already in the 19th century, it was known that with nitric acid, camphor could be oxidized into camphoric acid. Haller and Blanc published a semisynthesis of camphor from camphoric acid, which, although demonstrating its structure, would not prove it. The first complete total synthesis for camphoric acid was published by Gustaf Komppa in 1903. Its starting materials were diethyl oxalate and 3,3-dimethylpentanoic acid, which reacted by Claisen condensation to give diketocamphoric acid. Methylation with methyl iodide and a complicated reduction procedure produced camphoric acid. William Perkin published another synthesis a short time later. Previously, some organic compounds (such as urea) had been synthesized in the laboratory as a proof of concept, but camphor was a scarce natural product with a worldwide demand. Komppa realized this and began industrial production of camphor in Tainionkoski, Finland, in 1907.
Jejak Kristen Nestorian di Barus
Barus sebagai gerbang masuknya agama-agama luar didukung temuan G.J.J. Deutz, mantan kontrolir Belanda, ketika bertugas di Barus, menulis tahun 1872, Deutz menemukan pecahan batu peninggalan zaman Hindu. Namun, baru tahun 1932, prasasti itu dibaca diterjemahkan Profesor Nila-kanti Sastri dari Universitas Madras. Bahasanya bahasa Sangsekerta. Prasasti itu menyebutkan, abad ke-11, telah bermukim di kota Barus sebuah koloni bangsa Tamil.
Gnillout Claude, penulis buku Barus Seribu Tahun Yang Lalu menyebutkan, Barus adalah sebuah kota kuno di Pantai Barat Sumatera Utara. Nama Barus muncul dalam sejarah peradaban Melayu masa Hamzah Fansuri, penyair mistik terkenal itu.
Sementara itu, tim arkeolog dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis bekerjasama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobutua-Barus, menemukan bahwa pada sekitar abad ke 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan etnis lainnya. Ini menandakan dahulu kala Barus itu sangatlah penting sebagai pusat perjumpaan para pedagang.
Ternyata, jauh sebelum temuan di atas, Barus juga merupakan masuknya agama ke Nusantara.
Hubungan Barus dengan Timur Tengah rupanya sudah lama. Jauh sebelum agama Islam masuk ke Nusantara, sudah terlebih dahulu tiba Kristen Nestorian. Adalah kecamatan terpencil di Sumatera Utara yang bernama Barus sebagai tempat masuknya Kristen Nestorian abad ke-6, tepatnya tahun 645.
Tetapi, jauh sebelum itu Nestorian sudah ada di Barus, Barus sudah merupakan pusat perdagangan asal kapur barus yang disebut “kamper.” Saat Abu Salih al-Armini menulis sebuah karangan bahwa kamper berasal dari Barus. Dalam buku itu dijelaskan jauh sebelum pedagang Timur-Tengah datang ke Barus sudah ada orang-orang Nestorian. Hal itu juga tertulis di buku Kitab Nazm al-Jawhar karangan Sa’idah al Batriq menyebutkan di abad ke-7 sudah jemaat Nestorian di Barus. Peryataan itu juga diperkuat dengan ditemukannya sebuah salib Nestorian.
Lain lagi laporan dari naskah-naskah kuno Nestorian tentang Keuskupan di Dabag yaitu wilayah Jawa dan Sumatera Selatan selain di Barus dekat Sibolga, Sumatera Utara. Abad ke-14 Giovanni De Marignolli dari Italia menemukan orang-orang Kristen yang berbudaya non-Eropa (Arab) di Majapahit dan Sriwijaya. Ada jemaat Nestorian yang masih melakukan sembayang ala Nestorian.
Sementara dalam buku Sejarah Perjumpaan Kristen dan Muslim di Indonesia yang ditulis Jan S. Aritonang menyebutkan, jauh sebelum perjumpaan agama Islam di Indonesia sudah ada Kristen Nestorian bersumber dari Khaldea/Syria dan Persia. Menurutnya, hal ini juga diperkuat temuan beberapa misionaris Katolik ke tempat di Nusantara pada abad ke-14. Tetapi jejak Nestorian di Barus dipastikan tidak berakar, tidak pernah tumbuh.
Masuknya Kristen Nestorian pun di Barus tidak tahu pasti apa motif di balik itu. Apakah karena semangat penginjilan yang dilakukan oleh para penginjil yang disebut rahib itu? Atau, barangkali hanya untuk berdagang di Barus sebagai salah satu pelabuhan terkenal kala itu, atau Nestorian hanya sebagai menumpang?
Nestorian
Kristen Nestorian adalah Kristen Ortodoks yang berkembang di Timur-Tengah. Liturgi dan bahasa yang di pakai adalah Arab. Nestorian didirikan Nestorius, ajaran ini dilanjutkan oleh Eutyches (380-456). Kristen Nestorian adalah nama yang diberikan untuk pengikut Nestorius.
Gereja Netorian yang berasal dari Irak (Persia) ini tidak terlalu menghiraukan doktrin, tetapi giat mengekpresikan diri ke sebelah Timur maupun Selatan. Sepeninggalan Nestorius, Eutyches membangun teologia yang berbeda dari gereja Roma, ketika itu dikuasai Romawi. Perbedaan pandangan tentang teologia tersebut memperunyam situasi. Karena perbedaan teologia itu, tahun 451, oleh Gereja Katholik Roma pada Konsili Chalcedon menyebut Nestorian adalah Bi’dah.
Sejarah gereja pun tidak pernah jernih menyebutkan itu. Fakta Kristenlah yang pertama masuk ke Barus. Baru menyusul Muslim yang kemudian dari Barus meneruskan perjalanan ke Aceh. Sayangnya, jejak Kristen Nestorian tidak berkembang di Barus. Malah yang berkembang agama Islam.
Bukan hanya itu, di hampir tempat jejak Nestorian pupus. Di China, Kristen Nestorian juga mengalami jejak yang sama. Pernah mencoba mendirikan Kristen Nestorian dan akhirnya tinggal tak berjejak. Tekanan para ekstrimis-ekstrimis Budha yang menutup biara-biara Nestorian. Itu terjadi tatkala kaisar Mongol yang baru saja masuk Budha tahun 1311. Selain itu ada juga dampak dari persaingan dengan Katholik Roma yang menyusul masuk China.***
Harapan Baru Pada Bupati Baru
PUTRA BARUS - Raja Bonaran Situmeang, SH yang selama ini lebih dikenal sebagai seorang Pengacara dan Syukran Jamilan Tanjung, pada hari Selasa, 09 Agustus 2011 dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah periode 2011 – 2016. Pelantikan dilakukan oleh Plt. Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjonugroho di Gedung Serbaguna Pandan.
Pelantikan ini menjadi sejarah daerah Kabupaten Tapteng karena dihadiri puluhan ribu masyarakat. Mereka rela dengan biaya sendiri datang, bahkan sampai tidak mendapatkan tempat duduk. Hadir juga sejumlah tokoh penting,di antaranya mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, anggota DPR RI Ruhut Sitompul, Jhonny Allen Marbun, anggota DPD Parlindungan Purba, Rudolf Pardede, serta sejumlah tamu lain.
Kepada Raja Bonaran Situmeang dan Syukran Jamilan Tanjung, Gatot berpesan tatanan sosial dan kekerabatan masyarakat yang selama pilkada telah terkotak-kotak harus mampu dipulihkan kembali.
“Saudara-saudara adalah pemimpin pilihan rakyat. Hal ini harus saudara syukuri dengan pengabdian yang tulus karena jabatan merupakan amanah yang sangat luar biasa yang diberikan masyarakat Sibolga kepada saudara untuk memimpin dan mewujudkan kesejahteraan bersama,”ujar Gatot.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Tapteng Lumbanraja Nahampun mengatakan, pada pelaksanaan Pilkada 12 Maret 2011 lalu, masyarakat berperan tanpa pamrih dan aktif memberikan sumbangsih materi (uang) dan material bagi kemenangan pasangan ini. “Maka itu masyarakat dari seluruh wilayah Tapteng cukup antusias menghadiri acara pelantikan ini dengan biaya jonny simatupang sendiri,” tandasnya.
Dalam wawancara dengan beberapa stasiun televisi setelah acara pelantikan, Bonaran Situmeang mengatakan kalau dulu dia mempela Anggodo, Marissa Haque maka mulai sekarang dia menjadi pembela rakyat. Berjanji akan mengembalikan hak rakyat khususnya di daerah transmigrasi yang dirampas oleh mantan Bupati sebelumnya. Bonaran Situmeang juga mengatakan akan memprioritaskan pembangunan infrastuktur.
Semoga dengan pelantikan Bupati yang baru ini jalan raya Sibolga – Barus dapat segera diperbaiki sehingga Barus tidak lagi menjadi sebuah daerah yang terpencil.
Subscribe to:
Posts (Atom)





